September 29, 2011

Apakah Artinya Berpikir?

Satu malam ketika sudah buntu pikiran mengerjakan tugas untuk dikumpulkan esok hari. Membuka peramban sosial, klik sana-sini, kemana kemari, hingga menemukan sebuah sajak

sebuah sajak yang dahulu lahir dan penghamilan tinta pada kertas
bukan dari kristal triwarna dan sinyal kejut yang membentuk wujud
sebuah sajak tentang kegelisahan, seruan

berikut sepotong darinya
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977
Dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, kepada Mahasiswa Institut Teknologi Bandung
WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong

Tak ada dari kita kah yang cukup merasa gelisah melihat kehidupan jaman seperti beliau? atau mulut kita terlampau penuh tersumpal materi dan omongan kosong?

September 20, 2011

The Fool



"point toward reckless or impulsive choices accompanied by folly and indiscretion. This is also the card of wasted energy."


stop proscratinating
turn the card around
being a zero
limitless possibilities
we're young and dangerous

September 11, 2011

Siapa Yang Mau Jadi Dokter?

Depan layar komputer, jam 2 malam
Senin, 12 September 

Seorang calon dokter ditanya tentang bagaimana rencana masa depan yang ia miliki,
"Saya ingin cepat lulus, ambil spesialis, buka praktek, ngumpulin duit, terus hidup santai sampai happy ending"

Kawan kita yang kuliah di fakultas kedoteran manapun, pasti mengeluarkan biaya kuliah yang tidak sedikit. beberapa orang tua yang hidup pas2an harus membanting tulang membiayai kuliahnya. Sudah sewajarnya jawaban seperti itu muncul. Biaya kuliah yang sangat tinggi membuat sebuah opini "gua kuliah udah mahal banget nih, tapi nanti gua bakal bisa balik modal dengan dengan gaji seorang dokter spesialis"

Nah sekarang, siapa dari calon2 dokter di universitas ternama itu mau bekerja sekedar sebagai dokter umum? dikirim ke pelosok entah dimana sinyal tv pun tak sampai? yang gajinya ga seberapa.
"Lalu siapa yang jadi dokter buat orang miskin? mau dilarang mereka sakit?"

Dilema yang sama juga terdapat kepada calon2 insiyur di institut ternama kita. Lulus lalu cari kerja di perusahaan minyak atau perusahaan multinasional, terus job hunting cari siapa yang bisa ngasih gaji dan fasilitas paling tinggi, terus nikah. Jadi dirut, bosen, trus turun ke politik ikut2an nyuri uang rakyat (mending kalo kuat mempertahankan idealisme).
"Siapa yang memberdayakan masyarakat memahami teknologi untuk meningkatkan taraf hidup mereka? mau dibiarkan mereka buta?"
Ada yang salah dengan biaya kuliah yang semakin tinggi.



"Mungkin karena aku takut akan hal-hal yang akan terpikirkan ketika berusaha keras untuk terlelap"
- sebuah alasan dari seorang penderita insomnia