September 11, 2011

Siapa Yang Mau Jadi Dokter?

Depan layar komputer, jam 2 malam
Senin, 12 September 

Seorang calon dokter ditanya tentang bagaimana rencana masa depan yang ia miliki,
"Saya ingin cepat lulus, ambil spesialis, buka praktek, ngumpulin duit, terus hidup santai sampai happy ending"

Kawan kita yang kuliah di fakultas kedoteran manapun, pasti mengeluarkan biaya kuliah yang tidak sedikit. beberapa orang tua yang hidup pas2an harus membanting tulang membiayai kuliahnya. Sudah sewajarnya jawaban seperti itu muncul. Biaya kuliah yang sangat tinggi membuat sebuah opini "gua kuliah udah mahal banget nih, tapi nanti gua bakal bisa balik modal dengan dengan gaji seorang dokter spesialis"

Nah sekarang, siapa dari calon2 dokter di universitas ternama itu mau bekerja sekedar sebagai dokter umum? dikirim ke pelosok entah dimana sinyal tv pun tak sampai? yang gajinya ga seberapa.
"Lalu siapa yang jadi dokter buat orang miskin? mau dilarang mereka sakit?"

Dilema yang sama juga terdapat kepada calon2 insiyur di institut ternama kita. Lulus lalu cari kerja di perusahaan minyak atau perusahaan multinasional, terus job hunting cari siapa yang bisa ngasih gaji dan fasilitas paling tinggi, terus nikah. Jadi dirut, bosen, trus turun ke politik ikut2an nyuri uang rakyat (mending kalo kuat mempertahankan idealisme).
"Siapa yang memberdayakan masyarakat memahami teknologi untuk meningkatkan taraf hidup mereka? mau dibiarkan mereka buta?"
Ada yang salah dengan biaya kuliah yang semakin tinggi.

No comments:

Post a Comment