the night is growing old
dark sky revealing its limit and what's in it beyond
the same sky the old people one used to gaze
mapping down constellation
deciphering fate
sending wishes
waiting miracles
inspire human on it's made up questions
some of them could speak to the stars
whispering to the breeze
then they waits
an hour
a whole night
a lifetime
but not that i could perceive
not that it would matter
I've stopped searching every inch of the darkness
for a falling star to be called mine
--
the dark sky, senescent night
two way conversations with myself
(as I've had no ability of making up delusion)
questions and more of them
wondering wondrous wonder
or just rambling
for whatnot
evaluation on me whose keep making mistakes
misjudgments, pretenses, also false assumptions
--
flux of time flowing constantly on space
touching matter, deform them
thousands light years away
pillars of creation
which had become supernovas
as we perceive its decaying into the end
a question of simple physics
does reality comes with the ability of us perceiving it?
does the light velocity 3*10^8 m/s
defines reality?
the lights of mine having a little chat
the lights of mine writing nonsenses
the lights of mine telling adoration
as i'm light years away from so-called reality
in a place where the present wont die out becoming the past
suspended, forgetting future
ignorance and it's bliss
--
ps: it's been a long while since the last time i wrote these kind of piece
i guess i'm allowed to write something on the day of my self-denied day of birth
me and my ego
November 8, 2011
October 28, 2011
The Third Time
Giving up chance to give and take affection
a choice made up from logic and calculation
and a bit of ego
the consequences and the conscience
in form of a simple yes/no question
Would she understand the gravity of this matter
to decide what she wanted and choices she made by herself
denying illusion of helplessness
having an ego and a brain
a choice she hasn't made,
as i'm longing for the binary answer
"the f*ck what people opinion, listen to what your desire most with your heart and mind"
a choice made up from logic and calculation
and a bit of ego
the consequences and the conscience
in form of a simple yes/no question
Would she understand the gravity of this matter
to decide what she wanted and choices she made by herself
denying illusion of helplessness
having an ego and a brain
a choice she hasn't made,
as i'm longing for the binary answer
"the f*ck what people opinion, listen to what your desire most with your heart and mind"
September 29, 2011
Apakah Artinya Berpikir?
Satu malam ketika sudah buntu pikiran mengerjakan tugas untuk dikumpulkan esok hari. Membuka peramban sosial, klik sana-sini, kemana kemari, hingga menemukan sebuah sajak
sebuah sajak yang dahulu lahir dan penghamilan tinta pada kertas
bukan dari kristal triwarna dan sinyal kejut yang membentuk wujud
sebuah sajak tentang kegelisahan, seruan
berikut sepotong darinya
Tak ada dari kita kah yang cukup merasa gelisah melihat kehidupan jaman seperti beliau? atau mulut kita terlampau penuh tersumpal materi dan omongan kosong?
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977
Dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, kepada Mahasiswa Institut Teknologi Bandung
WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong
Tak ada dari kita kah yang cukup merasa gelisah melihat kehidupan jaman seperti beliau? atau mulut kita terlampau penuh tersumpal materi dan omongan kosong?
September 20, 2011
The Fool
"point toward reckless or impulsive choices accompanied by folly and indiscretion. This is also the card of wasted energy."
stop proscratinating
turn the card around
being a zero
limitless possibilities
being a zero
limitless possibilities
we're young and dangerous
September 11, 2011
Siapa Yang Mau Jadi Dokter?
Depan layar komputer, jam 2 malam
Senin, 12 September
Seorang calon dokter ditanya tentang bagaimana rencana masa depan yang ia miliki,
"Saya ingin cepat lulus, ambil spesialis, buka praktek, ngumpulin duit, terus hidup santai sampai happy ending"
Kawan kita yang kuliah di fakultas kedoteran manapun, pasti mengeluarkan biaya kuliah yang tidak sedikit. beberapa orang tua yang hidup pas2an harus membanting tulang membiayai kuliahnya. Sudah sewajarnya jawaban seperti itu muncul. Biaya kuliah yang sangat tinggi membuat sebuah opini "gua kuliah udah mahal banget nih, tapi nanti gua bakal bisa balik modal dengan dengan gaji seorang dokter spesialis"
Nah sekarang, siapa dari calon2 dokter di universitas ternama itu mau bekerja sekedar sebagai dokter umum? dikirim ke pelosok entah dimana sinyal tv pun tak sampai? yang gajinya ga seberapa.
"Lalu siapa yang jadi dokter buat orang miskin? mau dilarang mereka sakit?"
Dilema yang sama juga terdapat kepada calon2 insiyur di institut ternama kita. Lulus lalu cari kerja di perusahaan minyak atau perusahaan multinasional, terus job hunting cari siapa yang bisa ngasih gaji dan fasilitas paling tinggi, terus nikah. Jadi dirut, bosen, trus turun ke politik ikut2an nyuri uang rakyat (mending kalo kuat mempertahankan idealisme).
"Siapa yang memberdayakan masyarakat memahami teknologi untuk meningkatkan taraf hidup mereka? mau dibiarkan mereka buta?"
Ada yang salah dengan biaya kuliah yang semakin tinggi.
August 16, 2011
Menjelang 'Kemerdekaan' dengan...
Kampus ITB, Bandung
Selasa, 16 Agustus 2011
Langkahku dengan cepat menyusuri koridor labtek, menuju sebuah kelas kosong yang dipindah ke tf lantai 4 dan dengan intuisilah aku menemukan ruang penggantinya. telat 20 menit
Hari ini kuliah macam anak TPB, dimana 3 tahun lalu nyaris setiap hari kuliah dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore dengan satu jam kosong di tengah hari. Selasa sudah kucalonkan sebagai hari akan kubenci semester ini. Sudah kuperhitungkan bahwa konsentrasi belajarku tidak cukup untuk semua kuliah, paling hanya untuk 2 kuliah pertama saja sebelum kepalaku penat dan mulut kembali menguap lebar.
Satu jam kosong aku pergunakan untuk tidur di bangku depan himpunan, peduli amat jadi tontonan, yang penting adem, ga sumpek, dan kena sedikit sinar matahari. Kuliah Fenom jam 1 disertai dengan kabar buruk: Dosennya ada keperluan mendadak yang merupakan solusi win-win-win bagi bpk dosen, yang berurusan dgn beliau, dan tentunya mahasiswa kelasnya yang mengeluarkan keluhan eufinisme. Bagiku:
"perpanjangan waktu tidur siang 2 babak"
Sore ada kuliah RLT, membahas kompresor sebuah pabrik es di pulau alor-entah-dimana yang sedang bermasalah. Beres kuliah cabut ke LFM, ca-cakru wawancanda, main gagarudaan-ada-lima, dan sedikit bahas proyekan. Terdengar gaduh Gonjang-Ganjing Ganesha di boulevard, aku lihat rekan2 mahasiswa bernyanyi lagu2 daerah dengan massa yang terlihat riuh karena rasa kangen akan kampung halaman. terpikir olehku:
"Jika aku anak rantau, akankah kurindu tanah priangan ini?"
Kopi sore (magrib) tentang acara Ganfest 2012, tajilan kruba, lalu kembali ke labtek untuk ikut acara bubar 1001 malam HMFT. singkat cerita, disini aku shalat taraweh kedua kalinya di bulan ini dan ikut permainan '17 agustusan' yang berlangsung dengan sangat 'cadas'. Bayangkan remaja 20-21 tahun dari institut (katanya) terbaik bangsa bertingkah seperti bocah sd yang baru mengikuti lomba 17an di RT nya, berusaha menang dengan segala cara, dan fanatisme kpd kelompok yang berumur 5 menit! Dan tentunya, aku yang merupakan mantan juara pecah balon tingkat RW tidak kalah semangat dengan yang lainnya!
Setelah perjuangan yang meneteskan keringat, mengeraskan rahang, sakit perut karena tertawa, dan seret tenggorokan. Kelompok saya dapet juara 1 lomba roadrush balap balon! yang berhadiahkan snack premium dari toserba terdekat. Berikut adalah foto dari anak2 yang bermain kembang api saat acara selesai:

Saat pulang kulihat jalanan sepi di tengah malam. Kuragu mereka yang masih terbangun sedang memaknai peringatan hari Kemerdekaan esoknya. Tak pernah berani kukaji makna kemerdekaan, terlalu takut untuk melupakan makna tersebut dalam sebuah tidur malam dan menelan pil lupa ingatan.
*pagi hari ini aku ingin mengikuti upacara bendera di kampus,
bukan untuk siapa2 melainkan diriku sendiri.
bukan untuk siapa2 melainkan diriku sendiri.
August 11, 2011
Perkenalan Kedua
somewhere between a dead man and a dying one
Kembali menulis,
-representasi dari kondisi kejiwaan terkini diri saya
Kembali menulis,
sebelumnya menulis akan racauan semacam diatas, menggunakan implisitas dari sebuah modus curahan dan cercaan hati. orang melabelinya dengan kata galau yang sekarang udah basi. berbeda dengan sekarang, ada orang bilang menulis itu kebutuhan, ada juga yang bilang menulis itu menghaluskan rasa, juga menulis itu memerdekakan pikiran. namun hal ini bukanlah alasan yang tepat.
mungkin tulisanku disini hanyalah merupakan sebuah bentuk respon dari sistem pemikiran berdasarkan input data yang diterima indera secara realtime (bahasa anak teknik pisan). meninggalkan arsip untuk setiap detik, setiap aksi, emosi
*salam kenal kawan baru, selamat datang kawan lama
saya Ahmad Husain,
seorang Mahasiswa
Subscribe to:
Comments (Atom)
